Jumat, 28 Januari 2011

Ki Ageng Selo

KI AGENG SELO

Kyai Ageng Sela atau Ki Ageng Ngabdurahman adalah tokoh spiritual sekaligus leluhur raja-raja Kesultanan Mataram. Ia adalah guru Sultan Adiwijaya pendiri Kesultanan Pajang, dan adalah kakek dari Panembahan Senapati pendiri Kesultanan Mataram. Kisah hidupnya pada umumnya bersifat legenda, menurut naskah-naskah babad.

Silsilah
Nama asli Ki Ageng Ngabdurahman Sela menurut sebagian masyarakat adalah Bagus Sogom. Menurut naskah-naskah babad ia dipercaya sebagai keturunan langsung Brawijaya raja terakhir MajapahitDikisahkan, Brawijaya memiliki anak bernama Bondan Kejawan, yang tidak diakuinya. Bondan Kejawan berputra Ki Getas Pandawa. Kemudian Ki Getas Pandawa berputra Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela berputra beberapa orang putri dan seorang putra bergelar Ki Ageng Ngenis. Ki Ageng Ngenis berputra Ki Ageng Pemanahan, penguasa pertama Mataram.

Legenda
Kisah hidup Ki Ageng Sela pada umumnya bersifat legenda menurut naskah-naskah babad, yang dipercaya sebagian masyarakat Jawa benar-benar terjadi. Ki Ageng Sela disebutkan pernah mendaftar sebagai perwira di Kesultanan Demak. Ia berhasil membunuh seekor banteng sebagai persyaratan seleksi, namun ngeri melihat darah si banteng akibatnya, Sultan menolaknya masuk ketentaraan Demak. Ki Ageng Sela kemudian menyepi di desa Sela sebagai petani sekaligus guru spiritual. Ia pernah menjadi guru Jaka Tingkir, pendiri Kesultanan Pajang. Ia kemudian mempersaudarakan Jaka Tingkir dengan cucu-cucunya, yaitu Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Ki Ageng Sela juga pernah dikisahkan menangkap petir ketika sedang bertani. Petir itu kemudian berubah menjadi seorang kakek tua yang dipersembahkan sebagai tawanan pada Kesultanan Demak. Namun, kakek tua itu kemudian berhasil kabur dari penjara. Untuk mengenang kesaktian Ki Ageng Sela, pintu masuk Masjid Agung Demak kemudian disebut Lawang Bledheg (pintu petir), dengan dihiasi ukiran berupa ornamen tanaman berkepala binatang bergigi runcing, sebagai simbol petir yang pernah ditangkap Ki Ageng. Bahkan, sebagian masyarakat Jawa sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Sela, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.
Ki Ageng Sela juga dikaitkan dengan asal-usul pusaka Mataram yang bernama Bende Kyai Bicak. Dikisahkan pada suatu hari Ki Ageng Sela menggelar pertunjukan wayang dengan dalang bernama Ki Bicak. Ki Ageng jatuh hati pada istri dalang yang kebetulan ikut membantu suaminya. Maka, Ki Ageng pun membunuh Ki Bicak untuk merebut Nyi Bicak. Akan tetapi, perhatian Ki Ageng kemudian beralih pada bende milik Ki Bicak. Ia tidak jadi menikahi Nyi Bicak dan memilih mengambil bende tersebut. Bende Ki Bicak kemudian menjadi warisan turun temurun keluarga Mataram. Roh Ki Bicak dipercaya menyatu dalam bende tersebut. Apabila hendak maju perang, pasukan Mataram biasanya lebih dulu menabuh bende Ki Bicak. Bila berbunyi nyaring pertanda pihak Mataram akan menang. Tapi bila tidak berbunyi pertanda musuh yang akan menang.
Selain pusaka, Ki Ageng Sela meninggalkan warisan berupa ajaran moral yang dianut keturunannya di Mataram. Ajaran tersebut berisi larangan-larangan yang harus dipatuhi apabila ingin mendapatkan keselamatan, yang kemudian ditulis para pujangga dalam bentuk syair macapat berjudul Pepali Ki Ageng Sela.

Kamis, 27 Januari 2011

WESTERLING

WESTERLING SANG PENJAGAL
Kapten Raymon P.P Westerling

Masyarakat kota Bandung Jawa Barat dan para prajurit TNI mantan Divisi Siliwangi boleh jadi tidak bisa melupakan peristiwa berdarah berikut ini. Pagi itu, 23 Januari 1950, pasukan KNIL Belanda yang dipimpin seorang opsir Baret Hijau Kapten Raymon P.P. Westerling menggemparkan Kota Bandung. Pasukan tanpa atribut itu membabi buta menembaki anggota TNI Divisi Siliwangi yang berada di jalan. Mayor Sutikno dan Mayor Sacharin ditembak di depan Hotel Savoy Homann. Letkol Adolf Lembong yang pagi itu akan menghadap Komandan Divisi Siliwangi Kolonel Sadikin di Gedung Stafkwartir yang terletak di Oudhospitalweg (kini Jalan Lembong) Nomor 38, tidak luput dari sasaran kekejaman westerling, sang algojo peristiwa pembantaian 40.000 penduduk Sulawesi Selatan itu. “Waktu itu, anggota Staf kwartir lainnya berusaha menyelamatkan diri lewat pintu belakang,” begitu salah satu kenangan yang disampaikan almarhum Letjen (Purn.) Dr. (HC) Mashudi.
Peristiwa itu mengakibatkan 79 anggota TNI dari Divisi Siliwangi gugur. Dalam penyelidikan kepolisian pada awal 1955 menemukan setidaknya terdapat 15 prajurit TNI lain diculik, bahkan salah seorang di antaranya berpangkat kapten. Mereka dibawa lari ke hutan di kaki Gunung Tangkubanparahu di sebelah barat Lembang oleh sebagian pasukan APRA yang dipimpin Eddy Hoffman.

Si Jagal Penyendiri

Masa kecil Westerling tak banyak terungkap, sebagian besar rapat tertutup. Dalam stambuk tentara KNIL, namanya hanya tertera sebagai Kapten Westerling. Ia lahir di Istanbul, Turki, pada hari Minggu, 31 Agustus 1919. Orangtuanya adalah pasangan pedagang karpet. Ayahnya seorang Belanda, ibunya keturunan Yunani.
Ketika berusia 5 tahun, kedua orang tuanya meninggalkan Westerling. Anak tak bahagia itu lalu hidup di panti asuhan. Tempat itulah mungkin yang membentuk dirinya menjadi orang yang tidak bergantung dan terikat pada siapa pun.
Westerling yang sudah tertarik pada buku-buku perang sejak masih belia menemukan kesempatan untuk jadi tentara ketika Perang Dunia pecah. Desember 1940, ia datang ke Konsulat Belanda di Istanbul. Westerling menawarkan diri menjadi sukarelawan. Ia diterima. Tapi untuk itu, sebelumnya ia harus bergabung dengan pasukan Australia.
Bersama kesatuannya, Westerling ikut angkat senjata di Mesir dan Palestina. Dua bulan kemudian ia dikirim ke Inggris dengan kapal. Di sini kesewenang-wenangannya mulai muncul. Ia menyelinap menuju Kanada, melaporkan diri ke Tangsi Ratu Juliana, di Sratford, Ontario. Di situlah ia belajar berbahasa Belanda.
Westerling lalu dikirim ke Inggris. Ia bergabung dalam Brigade Putri Irene. Di Skotlandia, ia memeroleh baret hijaunya. Ia juga mendapat didikan sebagai pasukan komando. Spesialisasinya adalah sabotase dan peledakan. Ia pun mendapat baret merah dari SAS (The Special Air Service), pasukan khusus Inggris yang terkenal. Dan yang membanggakannya, ia pernah bekerja di dinas rahasia Belanda di London, pernah menjadi pengawal pribadi Lord Mountbatten, dan menjadi instruktur pasukan Belanda—untuk latihan bertempur tanpa senjata dan membunuh tanpa bersuara. Tapi ia pun pernah dipekerjakan di dapur sebagai pengupas kentang.

Ternyata, hidup di barak bagi seorang Westerling menjemukan. Ia ingin mencium bau mesiu dan ramai pertempuran sebenarnya, bukan cuma latihan. Cita-citanya kesampaian pada 1944, Inggris menerjunkannya ke Belgia. Dari situ ia bergerak ke Belanda Selatan. Menurut buku De Zuid-Celebes Affairs, di Belgia itulah ia kali pertama merasakan perang sesungguhnya. Tapi, menurut Westerling sendiri, dalam Westerling, ‘De Eenling’ (Westerling, Si Penyendiri), perkenalan pertamanya dengan perang terjadi di hutan-hutan Burma.

Berkilau agaknya prestasi militer Westerling. Tapi entah mengapa ia meninggalkan satuannya, pasukan elit Inggris, dan masuk menjadi anggota KNIL. Ia lalu terpilih masuk dalam pasukan gabungan Belanda-Inggris di Kolombo. Pada September 1945, bersama beberapa pasukan, Westerling diterjunkan ke Medan, Sumatera Utara.
Tujuannya, menyerbu kamp konsentrasi Jepang Siringo-ringo di Deli, dan membebaskan pasukan pro-Belanda yang ditawan. Ia berhasil.
Sebulan kemudian tentara Inggris mendarat di Sumatera Utara, dan entah bagaimana Westerling bergabung dengan pasukan ini. Tugasnya, melakukan kontraspionase, demikian kata buku Westerling, De Eenling. Itu makanya di Medan ia mengkoordinir orang-orang Cina, membentuk pasukan teror Poh An Tui (PAT). Pertengahan tahun 1946, ia dikirim ke Jakarta.
Di KNIL, karier militer Westerling menanjak cepat. Mulanya, ia hanya seorang instruktur. Tak lama, pada usia 27 tahun, Letnan Satu Westerling diangkat sebagai Komandan Depot Speciale Troepen (DST), Pasukan Para Khusus Belanda. Pasukan inilah yang ditugaskan ke Makassar, untuk membantu Kolonel De Vries mempertahankan kekuasaan Belanda. Pada 5 Desember 1946, ia tiba di Makassar. Belum seminggu di tempat baru, ia sudah membuat teror yang menggemparkan. Kampung dikepung, dihujani mortir. Rumah-rumah dibakar habis. Penduduk dikumpulkan, dibantai. Dan para anggota pergerakan kemerdekaan disiksa, sebelum dihabisi dengan biji-biji peluru.

Kekejaman sang "JAGAL" di Kota Makasar

Empat bulan teror, perlawanan penduduk mereda. Anehnya, rakyat mengelu-elukan Westerling, (jelas karena diancam dan karena takut). Ketika beranjak dari Makassar, kembali ke Jawa, konon, seseorang memberikan kenang-kenangan sebilah badik.





Dari ”JAGAL” ke Penjual Buku
Westerling ternyata memang berbakat menjadi jagal manusia. Di Bandung ia ikut kemelut politik Indonesia, untuk menyalurkan bakatnya membunuh. Lewat APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), ia memancing pertumpahan darah. Tapi di Bandung pula ia memasuki hidup berumah tangga, menikah dengan wanita setempat, yang bernama Ivonne Fournier. Semua itu, APRA dan perkawinannya, dilakukannya sebagai orang biasa, setelah jabatannya sebagai Komandan DST dicopot oleh Panglima KNIL Jenderal Simon Spoor, di Batujajar, 21 November 1948. Gagal dengan APRA, Westerling tak juga patah. Ia dan anak buahnya, menurut buku Westerling yang ditulis Supardi, sering mengadakan pertemuan di Nite Club Black Cat di Jalan Segara (sekarang Jalan Veteran 1), Jakarta. Mereka menggunakan pabrik besi Nyo Peng Liong sebagai tempat merakit senjata. Sedangkan dana ia peroleh dari sejumlah perkebunan di Jawa Barat, bantuan seorang yang bernama Jungschlager (orang ini diduga anggota Nefis, Dinas Intelijen Militer Belanda), juga pampasan perang dari Jepang.
Pada Kamis, 23 Februari 1950, pukul 10 pagi Letnan Sanjoto mendapat informasi bahwa Westerling berada di Pelabuhan II Tanjung Priok. Sanjoto menugasi Letnan Kusuma dan Letnan Supardi, penulis buku itu, menangkap Westerling. Pukul 19.00 mereka mengendarai jip Willys, mendatangi Westerling. Rencananya, mereka akan mengajak ngobrol sebentar, lalu Supardi menembak Westerling, dan Kusuma meledakkan granat.
Aksi tak berjalan sesuai skenario. Sebelum rencana terlaksana, Westerling malah menghampiri mereka, mengajak minum bir. Mereka tak kuasa menolak. Tapi tugas tetap dilaksanakan: kedua letnan itu mengatakan kepada Westerling bahwa ia diharap datang ke markas Tanjung Priok sebentar.
Mereka berangkat dengan kendaraan masing-masing. Di tengah perjalanan Westerling dan anak buahnya memberondong mobil Kusuma dan Supardi hingga terbalik dan penumpangnya luka. Mayor Brentel Susilo dan Letnan J.C. Princen, yang menguntit jejak Westerling, ganti mengejarnya. Tapi terlambat, hari itu juga Westerling terbang ke Singapura dengan pesawat Catalina yang diduga telah dipersiapkan sebelumnya.
Di Singapura Westerling sempat ditangkap Inggris. Tapi kemudian ia bisa berangkat ke Belanda, Agustus, tahun itu juga. Nasibnya di luar medan perang bisa dibilang buruk. Ia mencoba bergerak di bidang percetakan, gagal. Pernah juga ia mencoba menjadi penyanyi opera, belajar menyanyi di Jerman, gagal lagi. “Saya jual buku saja,” katanya suatu ketika. Dan akhirnya memang ia hidup sebagai pedagang buku bekas. Westerling nyaris terjun ke kancah perang lagi. Ia sempat membikin dua memorandum yang isinya mendorong agar Eropa (termasuk Belanda) berperang menghadapi Vietkong di Perang Vietnam. Tak ada yang menanggapi. Menjelang perebutan Da Nang, Juli 1965, seseorang menghubunginya, menawarinya melatih pasukan Vietkong. Kabarnya, Westerling hampir berangkat bila tidak dicegah pemerintah Belanda.
Westerling memang khas tentara bayaran. Ia tampaknya tak pernah berpikir untuk siapa dan untuk apa dia menembak. Hingga saat-saat terakhirnya, sejauh diketahui, Westerling belum pernah mengaku bersalah atas terornya di Indonesia. Yang dilakukannya, katanya, adalah melindungi rakyat. Si jagoan Kaptein de Turk (julukannya karena ia berdarah Turki) akhirnya ‘ditaklukkan’ bukan di medan perang, tapi di medan ilmu. Sejarawan De Jong melalui bukunya membuka kembali masa lalu De Turk, dan membuat penyakit jantungnya kambuh.

Kekejaman sang "JAGAL" menurut rekannya sendiri
Bekas Serdadu komando Belanda, Herman van Goethem, mengenang kedatangan pasukannya di bawah pimpinan Westerling di Makassar, Sulawesi Selatan, “Apa yang kami termui di sana tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Mayat-mayat mengambang di laut dan sungai. Rumah-rumah penduduk dibakar.”
“Sempat terpikir, ‘Apa yang bisa kami perbuat dengan pasukan sesedikit ini. Kami saat itu hanya berkekuatan 123 serdadu. Bagaimana kami harus mencetak prestasi dalam waktu singkat? Ternyata kemudian bahwa Westerling diberi kekuasaan penuh untuk memulihkan keadaan dengan caranya sendiri,” demikian Van Goethem.
Kesaksian lain juga datang dari bekas anak buah Westerling, juga bekas serdadu komando Belanda bernama Van Groenendaal. Aksi pertama pasukan komando Depot Speciale Troepen/DST (Pasukan Khusus Cadangan) masih jelas melekat di pelupuk mata Van Groenendaal.
Di pagi-pagi buta (masih gelap), 10 Desember, pasukan ini melancarkan operasi ke Batua, sebelah timur kota Makassar. Dalam radius cukup luas semua jalan diblokade oleh serdadu dari pasukan KNIL. Selanjutnya pasukan komando DST dengan bebas menyerbu kampung-kampung.
Kaum pria yang berusaha melarikan diri langsung ditembak di tempat. Sisanya, ribuan laki-laki penduduk setempat, dikumpulkan di tengah-tengah sawah. Menjelang fajar, Kapten Westerling memerintahkan pasukan komando DST ini agar perempuan dan anak-anak dipisahkan dari laki-laki. Hanya laki-laki saja yang tersisa dikumpulkan di tengah-tengah sawah.
Selanjutnya di tengah sawah itu Westerling mengambil posisi di belakang meja lipat dengan dua buah pistol tersedia di atasnya. Dari staf intelijennya, Westerling mendapat daftar nama-nama ‘teroris’ (julukan Belanda untuk para pejuang kemerdekaan, red) dan mulai memanggil satu per satu dengan suara keras.
“Ketika orang itu maju ke depan, saya masih melihatnya dengan jelas di pelupuk mata, Westerling mengambil salah satu pistol dan menembak mati orang itu. Begitu seterusnya Westerling menyelesaikan seluruh daftar nama. Mereka tidak ditanya apa pun, hanya nama. Jika nama mereka ada dalam daftar, langsung dibantai,” kenang Van Groenendaal.
Menurut Van Groenendaal, hari itu sebanyak 63 penduduk dieksekusi oleh Westerling, namun menurut versi angka resmi hanya 35 orang. Mayat-mayat mereka dilucuti dari benda-benda berharga yang menempel, antara lain arloji dan semacamnya, lalu dibuang di cekungan besar.
Ketika eksekusi selesai, Westerling memerintahkan kepala kampung untuk berpidato kepada warga yang isinya menyanjung Westerling sebagai orang yang membawa kedamaian. Warga lalu menyahut dengan tangan ke atas dan berseru, ‘baru hitu’ (hidup baru). Kemudian Westerling mengangkat semacam polisi kampung, yang dilengkapi dengan tombak dari Belanda untuk melindungi kampung mereka dari ‘teroris’.
Van Groenendaal mengenang bahwa dia saat itu sudah mengatakan kepada Westerling bahwa metode eksekusi tanpa proses hukum itu tidak boleh.
“Ik heb toen tegen Westerling gezegd, ‘Dit kan niet!’ Maar hij zei, ‘Dit is mijn opdracht en als jij een andere methode weet, dan doe ik dat. Maar die andere methode was er volgens hem niet’. (Saya saat itu mengatakan kepada Westerling, ‘Ini tidak bisa! Tapi dia berkata, ‘Ini tugas saya dan kalau kamu tahu metode lain, saya akan lakukan itu. Tapi metode lain itu menurut dia tidak ada,’”)
Sebetulnya Herman van Goethem juga keberatan dengan metode komandannya itu, tetapi dia juga tidak punya alternatif lainnya.
“Kami berpendapat bahwa ini adalah metode yang sangat kejam, tapi kami saat itu meyakini bahwa tidak ada metode lain. Dan itu terbukti dari penugasan yang kami terima: para ‘teroris’ itu harus dibereskan dalam beberapa bulan. Jadi, kami tidak bisa menyelesaikan tugas ini dengan banyak kebijakan,” ujar Van Goethem.
“Aksi seperti itu terus berlangsung. Hari-hari pertama sasarannya sekitar kota Makassar, lalu meluas ke kampung-kampung lainnya. Pasukan komando DST selama 3 bulan hampir siang malam mengeksekusi penduduk setempat dengan metode di atas,” demikian Van Goethem. (ni/andere tijden).

Kuburan Kapten "Jagal" Westerling di Belanda

KISAH NYATA JAMES BOND

KISAH NYATA JAMES BOND

Ternyata tokoh James Bond Agen Rahasia 007 adalah kisah nyata dan bukunya akan terbit. Intelijen Inggris M16 untuk pertama kalinya merilis buku sejarah yang mengungkapkan kebenaran misi yang dilakukan James Bondsang agen 007 yang selama ini dikenal hanya di layar lebar dan novel.

Buku ini ditulis Keith Jeffery, seorang profesor bidang sejarah dari Universitas Queen di Belfast. Untuk menyusun buku ini, Keith diberikan akses oleh M16 untuk menelusuri arsip mengenai James Bond, sejak 1909 hingga awal Perang Dingin 1949.

Dalam cerita yang beredar, Bond melakukan misi meledakkan kapal-kapal dan masuk ke sarang Nazi yang saat itu menguasai Eropa dan Uni Soviet. Tentu saja aksi itu dilakukan dengan peralatan canggih intelijen di zamannya.

Buku ini juga mengungkap untuk pertama kalinya bahwa penulis kenamaan Inggris Graham Greene, W Somerset Muagham, dan Arthur Ransome, ternyata adalah agen M16.

Keith mengungkapkan, dirinya mendapat akses ke tempat khsusus penyimpanan arsip intelijen. Arsip-arsip itu memuat misi intelijen yang belum pernah diungkap ke publik sebelumnya.

"(Misi-misi) itu merupakan keberuntungan. Seperti tidak di wilayah musuh, namun seperti menaruh agen di negara asing saja," ujar Keith dalam peluncuran buku M16 setebal 810 halaman di Foreign and Commonwealth Office di London, seperti dikutip AFP.

Salah satu agen, Bill 'Biffy' Dunderdale, merupakan teman dekat Ian Fleming, penulis novel-novelJames Bond. Perempuan cantik serta mobil cepat pun dijadikan model bagi agen 007 itu dalam menjalankan misinya.

Jeffery mengungkapkan, agen-agen memiliki hak untuk membunuh yang kemudian dijadikan salah satu judul film Bond Licence to Kill. Terungkap, para agen terlibat dalam pembunuhan ilegal setidaknya dua orang dalam misinya.

Para agen juga melakukan pengeboman terhadap lima kapal dalam misi 'Operation Embrarass', sebuah kampanye untuk mematahkan semangat para pengungsi Yahudi yang hendak ke Palestina, wilayan yang ketika itu menjadi jajahan Inggris.

M16 juga terlibat spionase ke Amerika Serikat serta 'Free France' yang mengisahkan tentang perlawanan heroik Charles de Gaulle dalam Perang Dunia II.


INTELIJEN

PESAN RAHASIA AGEN INTELIJEN
Agen mata mata M16

Berita sangat mengejutkan bahwa ternyata agen - agen intelijen menulis pesan rahasia dengan bahan baku dari sperma, sperma pernah digunakan sebagai tinta tembus pandang yang paling efektif karena tidak terdeteksi oleh uap yodium.

Agen mata - mata inggris (M16) menggunakan sperma untuk mengirimkan pesan selama perang Dunia I karena khawatir ketahuan musuh pihak M16 menggunakan formula untuk menulis pesan rahasia agar tidak terdeteksi oleh uap yodium yang pada waktu itu merupakan metode paling mutakhir dalam medeteksi pesan rahasia.

Hal itu terungkap dalam catatan harian Kepala Intelijen Perancis dalam sebuah catatan pada bulan juni 1915 ia mengungkap adanya permintaan tinta tembus pandang yang tidak mudah terdeteksi oleh pimpinan tertinggi M16 kepada Ilmuwan di London Univercity.


Seperti dikutip dari Telegrap permintaan itu akhirnya mendapat tanggapan pada bulan Oktober 1915, dalam tanggapannya ternyata para Ilmuwan hanya menyarankan agar pesan rahasia agar ditulis dengan cairan yang sangat mudah didapatkan yaitu sperma.


Catatan harian itu juga menyebutkan betapa gembiranya sang pemimpin yang namanya dirahasiakan saat mendapat jawaban tersebut, selain mudah didapat cairan tersebut tidak terdeteksi oleh uap yodium.


Trik ini hanya menemukan sedikit kendala, misalnya saat agen mata - mata dikeluarkan dari tempatnya bertugas karena menjadi olok olok saat ketahuan menggunakan sperma untuk menulis. Para agen harus selalu ingat agar tidak menggunakan sperma basi jika tulisannya tidak ingin mengeluarkan bau tidak sedap.


Sumber : http://amazing.okabasi.com/tinta-yang-digunakan-agen-intelijen-inggris-ternyata-dibuat-dari-sperma/

Rabu, 26 Januari 2011

KUSNI KADUT


KUSNI KADUT

Siapa yang tidak mengenal tokoh ini pada era 70 an, salah satu pejahat Legendaris, tertangkap dan di vonis hukuman mati atas segala perbuatannya…. Namun pada saat – saat akhir hayat nya ia bertobat dan dengan “tegar” menghadapi hukumannya.
Dalam keterasingannya di penjara dan jauh dari orang-orang yang dicintai, ternyata sisi agamis Kusni Kasdut tumbuh semakin dalam. Apalagi ketika dia di penjara dan sebelum dieksekusi mati, dia sempat berkenalan dengan seorang pemuka agama Katolik.
Setelah berkenalan dengan pemuka agama tersebut, akhirnya dia memutuskan menjadi pengikut setia. Kusni Kasdut dibaptis sebagai pemeluk Katolik dengan nama Ignatius Kusni Kasdut.
Saat menunggu hari eksekusi, dia menuangkan rasa cintanya terhadap agama yang telah dia anut dalam sebuah lukisan yang terbuat dari gedebog pohon pisang. Dalam lukisan tersebut, tergambar dengan rinci Gereja Katedral lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik. Dan sampai sekarang masih tersimpan rapi di Museum Gerja Katederal Jakarta.
lukisan Kusni Kasdut yang terbuat dari gedebok Pisang, dan masih tersimpan di Kathederal Jakarta
“Setelah lukisan gedebog pisang itu jadi, sebagai tanda terima kasihnya, Kusni Kasdut memberikan lukisannya itu kepada Gereja Katedral, Jakarta. Beberapa hari setelah itu, Kusni Kasdut ditembak mati,” ujar pengurus Museum Katedral, Jakarta, Eduardus Suwito.
Saya mendapat tulisan mengenai saat – saat akhir hayatnya pada saat mau menghadapi regu tembak :
Keinginannya terakhir hanya ia mau duduk di tengah keluarganya.
Itu terpenuhi. Sembilan jam sebelum diantar pergi oleh tim
eksekutor, di ruang kebaktian Katolik di LP Kalisosok Kusni
Kasdut dikelilingi keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik
dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami
Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Itulah jamuannya yang
terakhir-dengan capcai, mi dan ayam goreng. Tapi rupanya hanya
orang yang menjelang mati itu yang dengan nikmat makan. 
Kusni, kemudian, memeluk Ninik. “Saya sebenarnya sudah tobat
total sejak 1976,” katanya, seperti direkam seorang
pendengarnya. “Situasilah yang membuat ayah jadi begini.
Sebenarnya ayah ingin menghabiskan umur untuk mengabdi kepada
Tuhan. Tapi waktu terlalu pendek. Ninik dan yang lain
menangis. “Diamlah,” lanjut ayahnya, “Ninik ‘kan sudah tahu,
ayah sudah pasrah. Ayah yakin Tuhan sudah menyediakan tempat
bagi ayah. Maafkanlah ayah.” Kedua cucunya, Eka dan Vera, mulai
mengantuk.


Pada masanya Kusni kasdut adalah penjahat spesialis “barang antik” salah satunya yang paling spektakuler ia merampok Museum Nasional Jakarta. Dengan menggunakan jeep dan mengenakan seragam polisi (yang tentunya palsu), dia pada tanggal 31 Mei 1961 masuk ke Museum Nasional yang dikenal juga Gedung Gajah. Setelah melukai penjaga dia membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut.
Pernah membunuh dan merampok seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened pada 1960-an. Kusni Kasdut dalam aksinya ditemani oleh Bir Ali. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan, Awab Alhajiri. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembak dari jeep yang dibawa oleh Kusni Kasdut.
Saat-saat terakhir Kusni Kasdut ini dijadikan ide untuk lagunya God Bless “Selamat Pagi Indonesia” di album “Cermin”. Lirik lagu ini ditulis oleh Theodore KS, wartawan musik Kompas yg jagoan menulis lirik lagu.
Awalnya Kusni kasdut adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
SUDARTO adalah penasehat hukum Kusni Kasdut mengatakan dalam pembelaanya : ”Manusia tidak berhak mencabut nyawa orang,” dan ”Nafsu tidak bisa dibendung dengan ancaman”.
Kusni Kasdut pada saat sedang menunggu keputusan atas permohonan grasinya sempat melarikan diri kemudian dapat ditangkap kembali dan akhirnya menjalankan pidana matinya.
Kusni Kasdut sempat dijuluki “Robin Hood” Indonesia, karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi – bagikan kepada kaum miskin.
Tangan kanan Kusni Kasdut adalah Bir Ali, anak Cikini Kecil (sekarang ini letaknya di belakang Hotel Sofyan). Bir Ali, yang juga menjadi pembunuh Ali Bajened bersama Kusni Kasdut di Jalan KH Wahid Hasyim, bernama lengkap Muhammad Ali. Dia mendapat gelar Bir Ali karena kesukaannya menenggak bir, ia tewas dalam tembak menembak dengan polisi.
Ia menjalani hukuman matinya didepan regu tembak pada 16 Februari 1980.
Sumber : dari berbagai sumber




DAYAK MERATUS


DAYAK MERATUS
Urang Bukit/Suku Bukit[1]atau Suku Dayak Bukit[2] adalah suku asli yang mendiami pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan, karena itu suku ini belakangan lebih senang disebut Suku Dayak Meratus, daripada "Dayak Bukit" sudah terlanjur dimaknai sebagai "orang gunung". Padahal menurut Hairus Salim dari kosa kata lokal di daerah tersebut istilah 'bukit' berarti bagian bawah dari suatu pohon' yang juga bermakna 'orang atau sekelompok orang atau rumpun keluarga yang pertama yang merupakan cikal bakal masyarakat lainnya'. Adapula yang menamakan sebagai Dayak Banjar, artinya Dayak yang berasal dari daerah Banjar yaitu Kalimantan Selatan.
Populasi suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan pada sensus penduduk tahun 2000 berjumlah 35.838 jiwa, sebagian besar daripadanya terdapat di kabupaten Kota Baru yang berjumlah 14.508 jiwa.
Suku Bukit juga dinamakan Ukit, Buket, Bukat atau Bukut. Suku Bukit atau suku Dayak Bukit terdapat di beberapa kecamatan yang terletak di pegunungan Meratus pada kabupaten Banjarkabupaten BalanganHulu Sungai TengahHulu Sungai Selatankabupaten TapinTanah LautTanah Bumbu, dan Kota Baru.
Beberapa golongan Dayak Bukit yaitu Dayak Pitap, di hulu sungai Pitap, kecamatan Awayan, Balangan, Dayak Hantakan, di kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah, Dayak Haruyan, di kecamatan Haruyan, Hulu Sungai Tengah, Dayak Loksado, di kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Dayak Piani, di kecamatan Piani, Tapin, Dayak Paramasan, di kecamatan Paramasan, Banjar, Dayak Riam Adungan, di kecamatan Kintap, Tanah Laut, Dayak Bajuin, di kecamatan Pelaihari, Tanah Laut, Dayak Bangkalaan, di kecamatan Kelumpang Hulu, Kotabaru, Dayak Sampanahan, di kecamatan Sampanahan, Kotabaru, Dayak Labuhan dan lain-lain

Menurut Alfani Daud, suku Dayak Bukit sebagaimana suku Banjar, nenek moyangnya juga berasal dari Sumatera dan sekitarnya ( daerah Melayu). Karena itu bahasa Bukit dinamakan sebagai "Bahasa Melayu Bukit" (Bukit Malay).

Budaya Bukit

Suku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak diKalimantan Tengah (Suku Dayak Ngaju), yang banyak menekankan ritual upacara kematian. Suku Dayak Bukit lebih menekankan upacara dalam kehidupan, seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen, sebagaimana halnya dengan suku Kanayatn di Kalimantan Barat. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi ngayau yang ada zaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.
Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang" yang disebut juga Aruh Ganal. Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan balai.
Balai merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, "memusat" karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan sesajen. Tiap balai dihuni oleh beberapa kepala keluarga, dengan posisi hunian mengelilingi altar upacara. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan umbun. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).
Suku Dayak Bukit menganal tiga kelompok roh pemelihara kawasan pemukiman dan tempat tinggal yaitu Siasia Banua, Bubuhan Aing dan Kariau
Siasia Banua contohnya Siasia Banua Kambat, Siasia Banua Pantai Batung, Siasia Banua Kambat dan sebagainya
Bubuhan Aing (= komunitas air) contohnya  Bubuhan Aing Muhara Indan, Bubuhan Aing Danau Bacaramin, Bubuhan Aing Maantasdan sebagainya
Kariau contohnya Kariau Labuhan, Kariau Padang Batung, Kariau Mantuil dan sebagainya

Bahasa Melayu Bukit

Bahasa Dayak Bukit, menurut penelitian banyak kemiripan dengan dialek Bahasa Banjar Hulu. Ada pula yang menamakan bahasa Bukit sebagai "bahasa Banjar archais". Bahasa Bukit termasuk Bahasa Melayu Lokal yang disebut Bahasa Melayu Bukit (bvu).
Perbandingan hubungan suku Bukit dengan suku Banjar, seperti hubungan suku Baduy dengan suku Banten. Suku Banjar dan suku Banten merupakan suku yang hampir seluruhnya memeluk Islam, sedangkan suku Bukit dan suku Baduy merupakan suku yang teguh mempertahankan religi sukunya.

Populasi Suku Bangsa Dayak Bukit

Populasi suku Dayak Bukit di Propinsi Kalimantan Selatan : 35.838 (BPS - sensus th. 2000)
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan berjumlah 35.838 jiwa, yang terdistribusi pada beberapakabupaten dan kota, yaitu :



bersambung ............