Tampilkan postingan dengan label pertanian dan perkebunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanian dan perkebunan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Februari 2011

JAMBU DELIMA

NIKMATNYA JAMBU DELIMA DARI DEMAK
Jambu Delima

Bermula pada tahun 1997 Masyarakat Kota Demak Mulai mengembang biakkan Pohon Jambu. Hingga Sekarang Produksi buah jambu dari Demak sudah memenuhi kebutuhan buah-buahan di Jawa Tengah,dan  masih meluas hingga Jawa Barat Dan Jawa Timur.Sejak Tahun 1997 hingga sekarang banyak sekali areal persawahan padi berubah menjadi perkebunan Jambu.Hal ini terjadi karena hasil panen jambu lebih  menguntungkan  dan masa panen yang cepat serta  pasar yang mudah. Warna merah jambu  yang memikat,yang  berarti rasa manis. serta aroma tersendiri yang nikmat dibarengi dengan keembutan jambu DELIMA. Yang selalu membuat  masyarakat  ketagihan untuk memakanya trus. Jambu delima memang tidak sebesar jambu citra,tapi jambu delima lebih lembut dan aroma khasnya lebih terasa,dan selalu menimbulkan sugesti yang lembut saat menggigitnya.

Di Desa Kedunguter Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak mulai membibitkan Jambu Delima berasal dari seorang pemuda yang memiliki keluarga orang Demak Kota membawa pulang cangkokan bibit Buah Jambu Demila dan ditanam didepan rumahnya, menginjak jambu Delima tersebut mulai berbuah selanjutnya jambu tersebut mulai di perbanyak dengan sistem dicangkok da diberikan kepada warga kampung yang ada disekitarnya.

BELIMBING DEMAK

LESTARIKAN BELIMBING DEMAK

Pada era kejayaan Kerajaan Demak Bintoro, belimbing (”Averhoa carambola”) menjadi salah satu tanaman dan buah favorit yang ditanam di Demak, Jawa Tengah. Penanaman itu tidak dalam bentuk budidaya di kebun atau lahan luas, tetapi di pekarangan rumah, bahkan di tepian jalan desa. Tak heran jika beredar cerita, konon Sunan Kalijaga, salah seorang Wali Songo, pun sempat menciptakan tembang Jawa berdasarkan inspirasi buah belimbing. Dalam tembang Lir-ilir itu terdapat syair, ”... Cah angon-cah angon, penekno belimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro... ” (anak-anak gembala panjatlah pohon belimbing itu. Meskipun licin tetap panjatlah…)

Sejarah belimbing di Demak memang demikian panjang. Pada 1980-an, belimbing demak mencapai puncak kejayaan. Belimbing tak hanya ditanam di halaman rumah, tetapi lahan luas pun disulap menjadi ”hutan” belimbing. Masyarakat sebagian besar mengandalkan kehidupannya kepada buah belimbing. Namun seiring perjalanan waktu, pada pertengahan 1990-an tanaman belimbing yang berjumlah 71.500 pohon, kini tinggal 20 persen. Itu pun buahnya jarang diperjualbelikan sehingga kalah bersaing dengan belimbing dari Blitar, Jawa Timur.
Buah belimbing pun semakin meredup dengan kehadiran buah-buahan lain. Namun, di antara waktu itulah Karmono dan Ramisyah, pensiunan penilik sekolah dan guru sekolah dasar, berperan. Menyimak nasib belimbing di wilayahnya yang makin tidak populer, mereka tergerak melestarikan belimbing demak. Suami-istri asal Desa Betokan, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, ini mencoba mempertahankan budidaya belimbing di tengah gempuran jambu air demak yang dikenal sebagai jambu merah delima dan citra.
Jambu yang semula merupakan tanaman seling pohon belimbing, seiring berjalannya waktu mulai menggantikan belimbing. Dinas Pertanian Kabupaten Demak mencatat, tahun 2010 terdapat 127.109 pohon jambu, 86.367 merupakan tanaman produktif.
”Perawatan belimbing yang sulit dan buah yang lebih sedikit membuat jambu diunggulkan,” kata Karmono.
Semula, Karmono sempat tergiur dengan gebrakan jambu air yang mampu meningkatkan penghasilan petani buah. Pohon jambu dalam setahun bisa berbuah tiga kali, dengan produksi 3.000-6.000 buah (300-600 kilogram). Sedangkan pohon belimbing dalam setahun hanya dua kali berbuah, dengan produksi 200-400 buah (40-80 kg).
Tak heran jika pohon belimbing yang semula berjumlah 200 pohon, pada akhir 2005 hanya tersisa 30 pohon. Banyak tetangga Karmono yang tidak lagi membudidayakan belimbing. ”Tugu desa yang semula berbentuk patung belimbing, sekarang berganti menjadi patung jambu air,” ujar Karmono.
Sebelum belimbing demak telanjur punah, Karmono dan Ramisyah berkomitmen untuk mengembangkan kembali tanaman buah tersebut, walaupun belum bisa sebanyak masa jayanya dulu. Belimbing merupakan tanaman yang dibudidayakan dan menghidupi keluarga mereka turun-temurun, setidaknya sudah empat generasi. Untuk itu, Karmono dan Ramisyah tetap merawat pohon belimbing yang berusia 15-25 tahun tersebut. Mereka juga membibitkan belimbing dengan mencangkok sejumlah pohon induk, generasi ketiga dan keempat pohon belimbing demak, sehingga bentuk dan rasanya tak jauh berbeda.
”Kami membibitkan pohon belimbing yang berbuah saat usianya satu-dua tahun. Meski pohonnya pendek, sekitar satu-dua meter, pohon itu sudah berbuah,” ujar Karmono. Di sisi lain, masih banyak orang yang mencari belimbing demak. Karena produksi buah belimbing yang terbatas, harganya pun relatif tinggi, Rp 7.000–Rp 10.000 per kg.

Seiring dengan menurunnya produksi buah belimbing, semakin melenyap pula teknik lama atau kuno dalam menanam dan membudidayakan belimbing. Salah satunya adalah teknik memberongsong belimbing dengan daun jati. Karmono dan Ramisyah mempertahankan teknik itu, lantaran daun jati merupakan materi paling baik sebagai pemberongsong belimbing.
Karmono mengatakan, ada tujuh bahan pemberongsong belimbing, yakni kertas minyak, kertas semen, kertas karbon, plastik, daun pisang, daun ploso, dan daun jati. Dari ketujuh materi itu, daun jati merupakan pemberongsong terbaik, disusul daun ploso dan kertas semen. ”Daun jati mempunyai pori-pori yang unik, sehingga mampu menghasilkan udara yang pas dalam pemberongsongan untuk mematangkan buah secara sempurna,” katanya.
Pori-pori daun jati, Karmono menambahkan, mampu mengatur masuknya sinar matahari agar tak menerpa langsung buah belimbing muda. Alasannya, kalau terkena sinar matahari langsung, buah belimbing muda akan rontok. Pemberongsongan juga berguna untuk melindungi belimbing dari lalat buah.
Menurut RamTerbitkan Entriisyah, pemberongsongan belimbing dengan daun jati juga telah dilakukan keluarganya selama empat generasi. Selain pada daun, kekhasan lain ada pada kode-kode khusus penanda kematangan dan pembeda antara belimbing yang satu dengan yang lain.
Kode-kode itu berupa pemasangan lidi sepanjang sekitar lima sentimeter pada berongsong. Misalnya, dua lidi yang dipasang horizontal menandakan belimbing yang diberongsong masih muda, dua lidi yang dipasang vertikal menunjukkan belimbing sudah setengah tua, dan dua lidi yang dipasang menyilang menandakan belimbing sudah siap panen.
”Kode-kode itu diperlukan karena belimbing harus diberongsong dengan daun jati satu per satu, tidak bergerombol sekaligus, sehingga kita tidak perlu membuka tutup berongsong. Berongsong baru diganti kalau daun jati membusuk terkena air hujan,” ujar Ramisyah.
Meskipun segala upaya pelestarian belimbing demak yang mereka ketahui telah dilakukan, Karmono dan Ramisyah tetap khawatir. Alasannya generasi berikutnya relatif tak ada yang berminat menjadi penerus budidaya belimbing. Padahal, bagi Karmono dan Ramisyah, belimbing demak tak sekadar buah, tetapi juga menyiratkan kearifan lokal dan filosofi hidup. (*/Kompas Cetak)

Minggu, 28 November 2010

belimbing




BELIMBING DEMAK 
Belimbing manis ini berasal dari Demak, Jawa tengah, dan telah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai varietas unggul. warna buah putih merata dan rasanya manis menyegarkan karena mengandung banyak air. Tekstur daging buahnya agak halus dengan aroma yang cukup harum, tetapi kurang tajam. Bijinya sedikit, antara 5-10 biji per buah dengan bentuk lonjong, pipih kecil, dan ujungnya meruncing. Ukuran buah cukup besar, berat rata-rata per buah antara 200-400 g. Produksi buah per pohon antara 150-300 buah/ pohon/tahun. Mulai berbuah pada umur 2-3 tahun dan dapat berbuah terus menerus sepanjang tahun.

Syarat Tumbuh 
Tanaman belimbing akan tumbuh baik di tempat dengan ketinggian 0-500 m di atas permukaan laut dengan curah hujan tinggi dan mendapat cukup cahaya matahari. Jenis tanah yang sesuai adalah tanah yang gembur, berdrainase baik, dan dapat menahan air.


Pedoman Budidaya 
Memperbanyak tanaman dengan: biji cangkokan okulasi. - Dengan biji. Ada bahayanya, sebab kemungkinan akan diperoleh pohon yang mempunyai sifat lain daripada induknya. Kalau ingin memperbanyak dengan biji, maka biji-biji blimbing dideder dulu, 6 minggu kemudian dipindahkan ke pesemaian dengan jarak 30x 30 cm. Pesemaian mendapatkan perlindungan ringan. Pada umur 1 tahun bibit dipindahkan ke kebun: - Dengan cangkokan. Untuk cabang cangkokan dipilih cabang yang tumbuhnya tegak ke atas. Kalau tidak ada cabang yang demikian, maka salah satu cabang yang mendatar dipotong. Nanti akan tumbuh cabangcabang yang tegak tumbuhnya. Dari salah satu cabang tersebut dibuat cangkokan. - Dengan okulasi. Blimbing manis hanya diokulasi dengan jenisnya sendiri. Waktu bertanam yang baik ialah pada permulaan musim hujan dengan jarak 6 x 6 m. Pohon-pohon perlu disemprot dengan obatobatan.

Pemeliharaan 
Untuk menjaga jangan sampai buah blimbing mendapat gangguan hama, seperti lalat buah, burung, kalong dsb., maka sebaiknya buah-buah tersebut dibungkus secara rapi dengan kertas, daun, kain dll. Bersamaan pembungkusan itu dilakukan penjarangan buah. Dengan penjarangan akan diperoleh buah yang besar. Penjarangan dan pembungkusan dilakukan pada waktu buah sebesar telur ayam.

Hama dan Penyakit 
Penyakit becak daun (Cercospora averrhoa) dan penyakit lembayung (Corticium) menyerang tanaman belimbing di Asia Tenggara, tetapi penyakit busuk pasca panen lebih gawat lagi, setidak-tidaknya pada buah belimbing manis; cacat kulit sedikit saja akan mengundang serangan jamur-jamur Ceratocystis, Colletotrichum, Dothoriella, dan Phomopsis. Ulat-ulat (Pingasa, Pseudoterpna, Diacotrichia) menyerang bunga dan daun muda. Buah belimbing manis sangat parah terserang lalat buah dewasa, terutama Dacus dorsalis (di Asia Tenggara), dan oleh ngengat penghancur buah (Othreis spp. di Australia); pembungkusan buah dapat mencegah serangan.

Panen dan Pasca Panen 
Pohon blimbing manis dapat berbunga sepanjang tahun, hingga dapat dipungut 3x setahun, yakni: pada akhir musim kemarau, musim labuh dan permulaan inusim hujan: Waktu berbuah paling lebat ialah pada permulaan musim hujan.

Sumber : http://naturindonesia.com/tanaman-pangan/tanaman-buah-dan-sayuran-b/629-belimbing-demak-kapur.html