Selasa, 17 Februari 2015

TEUKU UMAR

TEUKU UMAR

Teuku Umar. Ia dilahirkan pada tahun 1854 (tanggal dan bulannya tidak tercatat) di Meulaboh, Aceh Barat, Indonesia. Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899. Kakek Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putra, yaitu Nantan Setia dan Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud merupakan bapak Teuku Umar.

Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.

Kepribadiaan Teuku Umar sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani.

Pernikahan Teuku Umar tidak sekali dilakukan. Ketika umurnya sudah menginjak usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya. Sebenarnya Cut Nyak Dien sudah mempunyai suami (Teuku Ibrahim Lamnga) tapi telah meninggal dunia pada Juni 1878 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Setelah itu, Cut Nyak Dien bertemu dan jatuh cinta dengan Teuku Umar. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda di Krueng. Hasil perkawinan keduanya adalah anak perempuan bernama Cut Gambang yang lahir di tempat pengungsian karena orang tuanya tengah berjuang dalam medan tempur.

Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun 1884) pecah kembali perang di antara keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi bagaimana dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien pernah sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Atas keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar Johan Pahlawan dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri yang berjumlah 250 tentara dengan senjata lengkap.

Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Peperangan tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah memberitahukan terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.

Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan kekuatan yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan untuk mengelabuhi kekuatan Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka di pihak Belanda.
Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz diperintahkan agar mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan secara mendadak ke daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan perang, yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.

Pemikiran
Sejak kecil, Teuku Umar sebenarnya memiliki pemikiran yang kerap sulit dipahami oleh teman-temannya. Ketika beranjak dewasa pun pemikirannya juga masih sulit dipahami. Sebagaimana telah diulas di atas bahwa taktik Teuku Umar yang berpura-pura menjadi antek Belanda adalah sebagai bentuk “kerumitan” pemikiran dalam dirinya. Beragam tafsir muncul dalam memahami pemikiran Teuku Umar tentang taktik kepura-puraan tersebut. Meski demikian, yang pasti bahwa taktik dan strategi tersebut dinilai sangat jitu dalam menghadapi gempuran kolonial Belanda yang memiliki pasukan serta senjata sangat lengkap. Teuku Umar memandang bahwa “cara yang negatif” boleh-boleh saja dilakukan asalkan untuk mencapai “tujuan yang positif”. Jika dirunut pada konteks pemikiran kontemporer, pemikiran seperti itu kedengarannya lebih dekat dengan komunisme yang juga menghalalkan segala cara. Semangat perjuangan Teuku Umar dalam menghadapi kolonialisme Belanda yang pada akhirnya mendorong pemikiran semacam itu.

Karya
Karya Teuku Umar dapat berupa keberhasilan dirinya dalam menghadapi musuh. Sebagai contoh, pada tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar pernah menyerang kapal Hok Centon, milik Belanda. Kapal tersebut berhasil dikuasai pasukan Teuku Umar. Nahkoda kapalnya, Hans (asal Denmark) tewas dan kapal diserahkan kepada Belanda dengan meminta tebusan sebesar 25.000 ringgit. Keberanian tersebut sangat dikagumi oleh rakyat Aceh. Karya yang lain adalah berupa keberhasilan Teuku Umar ketika mendapatkan banyak senjata sebagai hasil dari pengkhianatan dirinya terhadap Belanda.

Penghargaan
Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, salah satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.

Teuku Umar dan pengikutnya

Makam Teuku Umar

Tugu Teuku Umar


Sumber:
* Winarno, Sejarah Ringkas Pahlawan Nasional, (Jakarta: Erlangga, 2006).
* Wikipedia.org.

Sabtu, 14 Februari 2015

SEKILAS TENTANG GIOK  ACEH DARI NAGAN RAYA


Batu giok Aceh yang makin hari makin mahal harganya membuat warga nagan raya memburu batu tersebut yang lokasinya sangatlah jauh dari pemukiman penduduk, meskipun lokasi pencarian batu giok sangat jauh akan tetapi karena rupiah warga tetap memburunya meskipun resiko yang sangat tinggi.

Pintu masuk Dusun Krueng Isep Desa Pante Ara

Batu giok yang terdapat di kecamatan Beutong tersebut banyak jenisnya diantaranya saat ini yang menjadi incaran para koleksi batu gik yaitu jenis Solar, Indocrees, Neon, Bio solar, Black Jade, Neprit dan banyak lagi pilihan warna dan jenisnya.

Batu jenis Bio Solar

Batu jenis Solar

Lokasi batu giok Nagan Raya terdapat di wilayah hutan desa Pantai Ara, Blang Masjid dan Blang Neaung Kecamatan Beutong, warga yang berburu batu giok kebanyakan dari luar ketiga desa tersebut meskipun pencarian batu giok tersebut menggunakan peralatan yang sederhana akan tetapi banyak orang yang memburu dan setelah mendapatkan tidak memperhatikan dampak lingkungan yang akan terjadi kedepan misalnya setelah batu diperoleh penambang tidak menutup kembali lubang bekas batu tersebut selain itu juga penambang memotong akar pohon yang dibawaahnya terdapat batu sehingga seandainya hujan lebat dan angin kencang mengakibatkan pohon tersebut roboh dan bisa berdampak lebih besar seandainya masyarakat yang menambang makin lama makin banyak, sehingga saat ini  Pemda nagan raya bersama Forkominda sejak kamis 05 Pebruari 2015 resmi menghentikan sementara seluruh aktivitas penambangan batu giok dan sejenisnya yang berada di wilayah hokum nagan raya langkah tersebut mencegah rusaknya lingkungan di kawasan penambangan batu giok.


Bongkahan batu giok yang sudah ditandai oleh warga





Selasa, 10 Februari 2015

DARI ACEH UNTUKMU INDONESIAKU


Sumbangan rakyat Aceh sangatlah besar bagi perjuangan Republik Indonesia di awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia
Apa yang bisa kita berikan kepada Negara dan Bangsa Indonesia !!!!!!
Seperti yang telah diberikan oleh para pejuang Aceh tempo dulu !
Jika tidak bisa memberikan sesuatu
Cukup kita merawat dan menjaga Negara dan Bangsa Indonesia
Dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia

Minggu, 06 Februari 2011

KERETA API

MUSEUM KERETA API AMBARAWA

Ambarawa sejak jaman Hindia Belanda merupakan daerah militer, sehingga Raja Willem I berkeinginan untuk mendirikan bangunan Stasiun Kereta Api guna memudahkan mengangkut pasukannya untuk menuju Semarang. Maka pada tanggal 21 Mei 1873 dibangunlah Stasiun Kereta Api Ambarawa dengan luas tanah 127.500 m2. Masa kejayaan Stasiun Ambarawa yang dikenal dengan sebutan WILLEM I, dihentikan pengoperasiannya sebagai stasiun kereta api dengan jurusan Ambarawa Kedungjati Semarang. Dan tahun 1976 untuk lintas Ambarawa Secang Magelang juga Ambarawa Parakan Temanggung.

Ditutupnya Stasiun Kereta Api Ambarawa, maka pada tanggal 8 april 1976 Gubernur Jawa Tengah Supardjo Rustam bersama Kepala PJKA Eksplotasi Soeharso memutuskan untuk mengubah Stasiun Ambarawa menjadi Museum Kereta Api dengan mengumpulkan 21 buah lokomotif yang pernah andil dalam pertempuran khususnya mengangkut tentara Indonesia.

Tertarik ingin menelusuri sejarah perkeretaapian di Indonesia, kami berangkat menuju Museum Kereta Api Ambarawa yang terletak di Kabupaten Semarang. Cukup menarik mengingat museum ini hanya ada satu-satunya di dunia yang memamerkan dipadukan dengan lokomotif uap yang masih bisa jalan mendaki gunung.Saat melewati pintu gerbang untuk menuju museum, kondisi jalan aspal untuk menuju lokasi parkir sudah rusak. Taman yang ada disekitar lokasi parkir kendaraan kurang terawat dan terlihat banyak tanaman yang mati. Bagi para penikmat kereta api hal ini sungguh memperihatinkan mengingat tempat ini merupakan salah satu aset sejarah dunia. 

Memasuki stasiun yang merupakan bangunan utama Museum Kereta Api Ambarawa, terasa seperti kembali ke masa lampau. Di beberapa ruangan museum, terdapat beberapa koleksi peralatan kuno seperti mesin telepon, mesin ketik, mesin hitung, dan peralatan lainnya. Benda-benda kuno tersebut masih terawat dengan baik dan tersimpan didalam etalase yang terbuat dari kaca.

Museum kereta api Ambarawa ini merupakan museum berteknologi kuno yang digunakan sebagai alat transportasi sejak sebelum kemerdekaan Indonesia sampai dengan tahun 1964. Di dalam museum ini terdapat 21 lokomotif uap yang berada di utara dan di barat museum, 5 lokomotif uap di depo dengan 3 diantaranya masih dapat beroperasi dengan baik. Selain itu terdapat beberapa alat-alat kuno seperti mesin hitung mesin ketik, pesawat telegram pesawat telepon, dan sebagainya.

Ketika kami sedang berjalan mengelilingi museum, kami melihat sebuah kereta uap lengkap dengan dua gerbong tuanya berjalan menuju stasiun. Ternyata ada sekelompok wisatawan yang menyewa kereta uap untuk merasakan perjalanan dengan menggunakan kereta uap.

Stasiun Ambarawa memiliki Lokomotif tua yang masih sanggup untuk mendaki pegunungan dengan kereta bergerigi, salah satu kereta api bergerigi di Indonesia yang dengan gagahnya mampu berjalan dengan kemiringan 30 derajat /ml menuju stasiun Bedono yang berjarak 9 km ditempuh dalam waktu 1 jam dan berkapasitas 80 orang. Wisatawan bisa menikmati panorama di sepanjang perjalanan berupa Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu yang menjulang tinggi serta hamparan Rawa Pening di bagian bawah. Tidak ada salahnya kita menghargai Kereta Api sebagai alat transportasi tua yang telah berjalan di tanah Indonesia selama lebih dari 140 tahun yang lampau.

JAMBU DELIMA

NIKMATNYA JAMBU DELIMA DARI DEMAK
Jambu Delima

Bermula pada tahun 1997 Masyarakat Kota Demak Mulai mengembang biakkan Pohon Jambu. Hingga Sekarang Produksi buah jambu dari Demak sudah memenuhi kebutuhan buah-buahan di Jawa Tengah,dan  masih meluas hingga Jawa Barat Dan Jawa Timur.Sejak Tahun 1997 hingga sekarang banyak sekali areal persawahan padi berubah menjadi perkebunan Jambu.Hal ini terjadi karena hasil panen jambu lebih  menguntungkan  dan masa panen yang cepat serta  pasar yang mudah. Warna merah jambu  yang memikat,yang  berarti rasa manis. serta aroma tersendiri yang nikmat dibarengi dengan keembutan jambu DELIMA. Yang selalu membuat  masyarakat  ketagihan untuk memakanya trus. Jambu delima memang tidak sebesar jambu citra,tapi jambu delima lebih lembut dan aroma khasnya lebih terasa,dan selalu menimbulkan sugesti yang lembut saat menggigitnya.

Di Desa Kedunguter Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak mulai membibitkan Jambu Delima berasal dari seorang pemuda yang memiliki keluarga orang Demak Kota membawa pulang cangkokan bibit Buah Jambu Demila dan ditanam didepan rumahnya, menginjak jambu Delima tersebut mulai berbuah selanjutnya jambu tersebut mulai di perbanyak dengan sistem dicangkok da diberikan kepada warga kampung yang ada disekitarnya.

BELIMBING DEMAK

LESTARIKAN BELIMBING DEMAK

Pada era kejayaan Kerajaan Demak Bintoro, belimbing (”Averhoa carambola”) menjadi salah satu tanaman dan buah favorit yang ditanam di Demak, Jawa Tengah. Penanaman itu tidak dalam bentuk budidaya di kebun atau lahan luas, tetapi di pekarangan rumah, bahkan di tepian jalan desa. Tak heran jika beredar cerita, konon Sunan Kalijaga, salah seorang Wali Songo, pun sempat menciptakan tembang Jawa berdasarkan inspirasi buah belimbing. Dalam tembang Lir-ilir itu terdapat syair, ”... Cah angon-cah angon, penekno belimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro... ” (anak-anak gembala panjatlah pohon belimbing itu. Meskipun licin tetap panjatlah…)

Sejarah belimbing di Demak memang demikian panjang. Pada 1980-an, belimbing demak mencapai puncak kejayaan. Belimbing tak hanya ditanam di halaman rumah, tetapi lahan luas pun disulap menjadi ”hutan” belimbing. Masyarakat sebagian besar mengandalkan kehidupannya kepada buah belimbing. Namun seiring perjalanan waktu, pada pertengahan 1990-an tanaman belimbing yang berjumlah 71.500 pohon, kini tinggal 20 persen. Itu pun buahnya jarang diperjualbelikan sehingga kalah bersaing dengan belimbing dari Blitar, Jawa Timur.
Buah belimbing pun semakin meredup dengan kehadiran buah-buahan lain. Namun, di antara waktu itulah Karmono dan Ramisyah, pensiunan penilik sekolah dan guru sekolah dasar, berperan. Menyimak nasib belimbing di wilayahnya yang makin tidak populer, mereka tergerak melestarikan belimbing demak. Suami-istri asal Desa Betokan, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, ini mencoba mempertahankan budidaya belimbing di tengah gempuran jambu air demak yang dikenal sebagai jambu merah delima dan citra.
Jambu yang semula merupakan tanaman seling pohon belimbing, seiring berjalannya waktu mulai menggantikan belimbing. Dinas Pertanian Kabupaten Demak mencatat, tahun 2010 terdapat 127.109 pohon jambu, 86.367 merupakan tanaman produktif.
”Perawatan belimbing yang sulit dan buah yang lebih sedikit membuat jambu diunggulkan,” kata Karmono.
Semula, Karmono sempat tergiur dengan gebrakan jambu air yang mampu meningkatkan penghasilan petani buah. Pohon jambu dalam setahun bisa berbuah tiga kali, dengan produksi 3.000-6.000 buah (300-600 kilogram). Sedangkan pohon belimbing dalam setahun hanya dua kali berbuah, dengan produksi 200-400 buah (40-80 kg).
Tak heran jika pohon belimbing yang semula berjumlah 200 pohon, pada akhir 2005 hanya tersisa 30 pohon. Banyak tetangga Karmono yang tidak lagi membudidayakan belimbing. ”Tugu desa yang semula berbentuk patung belimbing, sekarang berganti menjadi patung jambu air,” ujar Karmono.
Sebelum belimbing demak telanjur punah, Karmono dan Ramisyah berkomitmen untuk mengembangkan kembali tanaman buah tersebut, walaupun belum bisa sebanyak masa jayanya dulu. Belimbing merupakan tanaman yang dibudidayakan dan menghidupi keluarga mereka turun-temurun, setidaknya sudah empat generasi. Untuk itu, Karmono dan Ramisyah tetap merawat pohon belimbing yang berusia 15-25 tahun tersebut. Mereka juga membibitkan belimbing dengan mencangkok sejumlah pohon induk, generasi ketiga dan keempat pohon belimbing demak, sehingga bentuk dan rasanya tak jauh berbeda.
”Kami membibitkan pohon belimbing yang berbuah saat usianya satu-dua tahun. Meski pohonnya pendek, sekitar satu-dua meter, pohon itu sudah berbuah,” ujar Karmono. Di sisi lain, masih banyak orang yang mencari belimbing demak. Karena produksi buah belimbing yang terbatas, harganya pun relatif tinggi, Rp 7.000–Rp 10.000 per kg.

Seiring dengan menurunnya produksi buah belimbing, semakin melenyap pula teknik lama atau kuno dalam menanam dan membudidayakan belimbing. Salah satunya adalah teknik memberongsong belimbing dengan daun jati. Karmono dan Ramisyah mempertahankan teknik itu, lantaran daun jati merupakan materi paling baik sebagai pemberongsong belimbing.
Karmono mengatakan, ada tujuh bahan pemberongsong belimbing, yakni kertas minyak, kertas semen, kertas karbon, plastik, daun pisang, daun ploso, dan daun jati. Dari ketujuh materi itu, daun jati merupakan pemberongsong terbaik, disusul daun ploso dan kertas semen. ”Daun jati mempunyai pori-pori yang unik, sehingga mampu menghasilkan udara yang pas dalam pemberongsongan untuk mematangkan buah secara sempurna,” katanya.
Pori-pori daun jati, Karmono menambahkan, mampu mengatur masuknya sinar matahari agar tak menerpa langsung buah belimbing muda. Alasannya, kalau terkena sinar matahari langsung, buah belimbing muda akan rontok. Pemberongsongan juga berguna untuk melindungi belimbing dari lalat buah.
Menurut RamTerbitkan Entriisyah, pemberongsongan belimbing dengan daun jati juga telah dilakukan keluarganya selama empat generasi. Selain pada daun, kekhasan lain ada pada kode-kode khusus penanda kematangan dan pembeda antara belimbing yang satu dengan yang lain.
Kode-kode itu berupa pemasangan lidi sepanjang sekitar lima sentimeter pada berongsong. Misalnya, dua lidi yang dipasang horizontal menandakan belimbing yang diberongsong masih muda, dua lidi yang dipasang vertikal menunjukkan belimbing sudah setengah tua, dan dua lidi yang dipasang menyilang menandakan belimbing sudah siap panen.
”Kode-kode itu diperlukan karena belimbing harus diberongsong dengan daun jati satu per satu, tidak bergerombol sekaligus, sehingga kita tidak perlu membuka tutup berongsong. Berongsong baru diganti kalau daun jati membusuk terkena air hujan,” ujar Ramisyah.
Meskipun segala upaya pelestarian belimbing demak yang mereka ketahui telah dilakukan, Karmono dan Ramisyah tetap khawatir. Alasannya generasi berikutnya relatif tak ada yang berminat menjadi penerus budidaya belimbing. Padahal, bagi Karmono dan Ramisyah, belimbing demak tak sekadar buah, tetapi juga menyiratkan kearifan lokal dan filosofi hidup. (*/Kompas Cetak)

TAMPOMAS II

TRAGEDI TAMPOMAS II

KM Tampomas II milik Pelni ini baru melakukan pelayaran perdananya pada bulan Mei 1980. Tapi bukan berarti ini kapal baru. KM Tampomas II dengan bobot mati 2420 ton dan mampu mengangkut penumpang 1250 sampai 1500 orang ini adalah kapal bekas yang dibeli oleh PT. PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional, BUMN) dari Komodo Marine Jepang. Dan PT. Pelni membeli secara mengangsur selama sepuluh tahun kepada PT. PANN. Kapal ini sebelumnya bernama MV. Great Emerald dibuat di Jepang tahun 1956 dan dimodifikasi tahun 1971. Dibeli dengan harga 8.3 juta dollar AS, yang menurut beberapa pihak terlalu mahal untuk sebuah kapal bekas yang sudah berusia sepuluh tahun. Begitu dioperasikan, kapal penumpang ini langsung digeber abis untuk melayani jalur Jakarta-Padang dan Jakarta-Ujung Pandang yang memang padat. Setiap selesai pelayaran, kabarnya kapal ini hanya diberi waktu istirahat 4 jam saja dan harus siap untuk pelayaran berikutnya. Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin dan perlengkapan kapal pun cuma bisa dilaksanakan sekedarnya, padahal mengingat usianya kapal ini butuh perawatan yang jauh lebih cermat.

Tampomas II berlayar dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta  hari Sabtu. 24 Januari 2008 pukul 19.00 menuju Sulawesi dengan membawa 191 kendaraan roda empat, sekitar 200-an sepeda motor dan 1054 penumpang terdaftar serta 82 kru kapal. Perkiraan mengatakan total manusia di kapal tersebut adalah 1442 orang (perkiraan tambahan penumpang gelap). Bahkan koki kapal yang selamat mengaku diperintahkan atasannya agar memasak untuk 2000 orang. Dalam kondisi badai laut di malam hari tanggal 25 Januari, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, diduga percikan api timbul dari puntung rokok yang melalui kipas ventilasi yang menjadi penyebab kebakaran. Para kru melihat dan gagal memadamkannya dengan tabung pemadam kebakaran portable. Api menjalar ke dek lain yang berisi muatan yang mudah terbakar, asap menjalar melalui jalur ventilasi dan tidak berhasil ditutup. Api semakin menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka. Selama dua jam tenaga utama mati, generator darurat pun gagal dan usaha memadamkan api seterusnya sudah tidak mungkin.

Tigapuluh menit setelah api muncul para penumpang diperintahkan untuk segera menaiki sekoci, hal ini pun sangat lambat sebab hanya satu jalan bagi penumpang untuk diturunkan ke sekoci. Sebagian penumpang terjun bebas ke laut menghindari kobaran api, sebagian lagi menunggu di dek dan panik menunggu pertolongan selanjutnya. Syahbandar pelabuhan Ujung Pandang mendapat berita dari KM Wayabula meneruskan informasi dari KM Sangihe yang tengah melakukan evakuasi bahwa Tampomas II terbakar di kepulauan Masalembo sekitar 220 mil dari Ujung Pandang. Ombak besar setinggi 7 – 10 meter dan angin kencang 10 – 15 knot menyulitkan penyelamatan sehingga KM Sangihe hanya dapat memindahkan 149 penumpang Tampomas II ke kapalnya. Saat kapal sudah mulai miring, Capt. Abdul Rivai (Nahkoda Kapal) masih tampak sibuk membagikan pelampung ke para penumpang yang tidak berani terjun ke laut. Bahkan di detik2 terakhir saat kapal mulai tenggelam, Capt. Abdul Rivai masih terlihat berada di anjungan kapal sambil berpegangan pada kusen jendela.

Di tanggal 26 Januari Laut Jawa mengalami hujan deras, api menjalar ke ruang mesin di mana terdapat ruang bahan bakar yang tidak terisolasi. Pagi hari 27 Januari terjadi ledakan dan membuat air laut masuk ke ruang mesin (ruang propeler dan ruang generator terisi air laut), yang membuat kapal menjadi miring 45° dan tenggelam 30 jam sejak percikan api pertama menjalar. Kapal-kapal lain yang berada di sekitar lokasi, KM Sangihe, KM Adiguna Kurnia, KM Istana VI, KM Ilmamui, KM Niaga XXIX, dan beberapa kapal lain berusaha semampunya untuk menyelamatkan penumpang Tampomas II yang terapung-apung di laut setelah melompat dari kapal.

Sampai tanggal 29 Januari tim SaR gagal melakukan pencarian karena besarnya badai laut, dan 5 hari kemudian 80 orang yang selamat dalam sekoci ditemukan 150Km dari lokasi kejadian karamnya Tampomas. Estimasi tim menyebutkan 431 tewas (143 ditemukan mayatnya dan 288 hilang/karam bersama kapal) dan 753 berhasil diselamatkan. Sumber lain (pemerintah?) menyebutkan 666 tewas. Berbagai cerita tragis dari penumpang yang selamat pun dituturkan. Ada seorang ibu yang terjun ke laut dengan anaknya yang masih bayi. Ketika tahu bayinya tak bernyawa lagi, ia pun tidak berusaha mengapung lagi membiarkan dirinya tenggelam. Tapi ketika ingat anaknya yang lebih besar masih hidup, ia tersadar dan berusaha tetap hidup. Lantai geladak luar kapal yang hanya terbuat dari plat baja tanpa pelapis kayu juga banyak memakan korban. Banyak penumpang panik yang tidak memakai alas kaki menjadi korban plat panas yang sedang terbakar itu. Proses penyelamatan yang lambat dan berlangsung selama 37 jam hingga kapal tenggelam membuat penumpang yang bertahan di geladak kapal harus bertahan tanpa makanan dan minuman. Dropping makanan dari udara tidak semuanya tepat pada lokasi penumpang.

Penumpang yang sempat menaiki sekoci penyelamat ternyata juga harus menjalani penderitaan. Selama 5 hari mereka terapung-apung di lautan di atas sekoci bersama sekitar 80-100 orang lainnya tanpa makanan. Sekoci yang kelebihan muatan itu bahkan sempat terbalik. Ketika berhasil dikembalikan ke posisi semula hanya tersisa 70 orang. Pada hari kelima barulah mereka menemukan daratan yaitu pulau Doang-doangan Sulawesi Selatan. Sesampai di darat 2 orang menghembuskan nafas terakhir.


Tak ada pejabat yang bertanggung jawab, semuanya berujung dengan kesalahan awak kapal. Hasil penyidikan Kejaksaan Agung yang menugaskan Bob Rusli Efendi Nasution sebagai Kepala Tim Perkara pun tidak ada tuntutan kepada pejabat yang saat itu memerintah. Skandal ini kemudian ditutup-tutupi oleh pemerintahan Suharto, kendati banyak tuntutan pengusutan dari sebagian anggota parlemen. Dalam suatu acara dengar pendapat yang diadakan oleh DPR-RI tentang kasus ini, Menteri Perhubungan menolak permintaan para wakil rakyat untuk menunjukkan laporan Bank Dunia yang merinci pembelian kapal bekas seharga US$8.5juta itu. Makelar kapal Tampomas II — Gregorius Hendra yang mengatur kontrak pembelian antara Jepang dan pemerintah Indonesia itu juga lepas dari tuntutan Kejaksaan Agung. Semoga saja kejadian seperti ini tidak terjadi lagi dan seluruh rakyat Indonesia dapat berpergian tanpa kekhawatiran timbulnya musibah yang dapat merenggut nyawa mereka-mereka yang tidak tahu apa-apa.